Bagaimana Cara Kita Menjemput Rezeki..? (sebuah Renungan)
Benar, rezeki itu tak akan pernah tertukar. Bahkan, ia akan datang kepada kita, sebanyak jumlah rezeki yang diberikan Allah. Tinggal kita saja yang memilih, bagaimana cara untuk menjemputnya.
Seorang tukang es keliling lewat di dekat bangunan sekolah kami. Karena panas yang sangat terik, kami pun memanggil tukang es tersebut, berniat membelinya untuk diberikan ke semua tukang yang sedang bekerja.
"Berapa orang, Pak, yang kerja hari ini?" tanya saya kepada salah seorang tukang yang sedang duduk mengaso.
Pak Susilo--nama tukang itu--kemudian menghitung teman-temannya dengan cermat. "Ada lima belas orang Bu."
"Ya, udah, pesan aja, Pak. Tanya dan hitung berapa harganya."
"Ini uangnya, Pak." Saya menyerahkan dua lembar uang merah kepada Pak Susilo setelah dia kembali dari tukang es.
Jadi, saya dan Pak Susilo sudah tahu berapa jumlah es yang kami beli dan berapa jumlah uang yang harus kami bayarkan.
"Oh, ya, kembaliannya nanti kasih saja ke tukang esnya, ya, Pak. Ada lebih 'kan?"
"Iya, Bu, ada."
Baca Juga : Tips hidup tenang di era pandemi 2021
Akan tetapi ternyata, ketika Pak Susilo membayar es yang sudah dibeli, tukang es itu mengatakan kalau uang pembayarannya pas. Pak Susilo pun heran, kenapa bisa begitu? Bukankah tadi mereka sudah bertanya dan dijawab sendiri oleh si penjual es? Apa ada salah perhitungan?
"Bagaimana Bu? Katanya uangnya pas. Tadi saya bertanya lagi, sih, dan tetap dia jawab harganya segitu."
"Ya, udah, deh, Pak. Biarin aja kalau memang si tukang es bilang seperti itu. Harga satuannya tadi udah benar 'kan, ya, Pak? Sudah ditanya ulang, 'kan?"
Saya pun kemudian memberitahu suami yang masih mengawasi pekerja lain perihal pembayaran es tadi.
"Itulah yang namanya rezeki, Dik. Besarnya sudah Allah tetapkan," jelas suami menenangkan saya.
"Padahal tadi Pak Susilo sudah bertanya dan menghitungnya, lho, Mas? Saya juga ikut ngitung, sesuai harga yang tukang es itu sebut. Jadi, rasanya, enggak mungkin salahlah, Mas!"
🍀🍀🍀
Si penjual es memang mendapat rezeki seharga dua lembar uang merah itu. Padahal tanpa dia berbohong, uang itu tetap akan menjadi haknya karena sudah diniatkan akan diberikan. Sayang, dia menjemput rezekinya dengan cara yang tidak diridai. Astaghfirullah ....
~Tamat~
Credit : @enyahernawati (Kaskuser Addict)



Komentar
Posting Komentar