Filosofi Tokoton ala orang Jepang

 Tokoton, finish what you have started


Tokoton adalah kosa kata menarik bagi saya. Pertama karena bunyinya unik, seolah terdengar seperti main-main. Padahal makna kata ini sungguh serius. Kedua, karena makna kata ini sungguh penting dalam kehidupan. Ketiga, dari sisi etimologi kata ini juga menarik.

Tokoton adalah kata keterangan, yang dalam bahasa Jepang disebut fukushi (副詞). Padanan kata ini dalam bahasa Indonesia adalah "tuntas", mengerjakan sesuatu sampai selesai. Contoh penggunaan yang paling saya ingat adalah tagline pada iklan sebuah produk pembersih, とことん除菌します, tokoton jokin shimasu (Membersihkan bakteri sampai tuntas).


Kata ini berasal dari dua suku kata, yaitu "toko" dan "ton". "Toko" ditulis dengan kanji 床 artinya lantai. Sedangkan suku kata "ton" adalah ekspresi menirukan bunyi hentakan, atau pukulan kepada sesuatu. Orang Jepang biasa mengekspresikan keadaan jatuhnya sesuatu dengan menirukan bunyinya, "ton" atau "don". Bunyi genta, misalnya, ditirukan sebagai "ton".


Lalu apa hubungannya dengan makna kata ini, yaitu tuntas?


Kosa kata ini lahir dari kegiatan menari. Tarian Jepang yang biasa dibawakan oleh "maiko" (舞子)dipentaskan dalam kedai-kedai minum sebagai hiburan. "Maiko" ini dalam bahasa lain biasa juga disebut "geisha". Secara literal "geisha" bermakna seniman, berasal dari kata "gei" (芸) yang artinya seni, dan "sha" (者)yang artinya orang. "Maiko" atau "geisha" adalah orang yang memberikan hiburan melalui seni tari, dan sesungguhnya (setidaknya pada awalnya) jauh dari makna pelacuran, makna kata yang melekat di benak banyak orang ketika mendengar kata "geisha". 


Sebuah tarian Jepang biasanya diakhiri dengan hentakan kaki (ton) pada lantai (toko). Aksi penutup tari itu disebut "tokoton". Artinya bila sudah sampai ke "tokoton" maka sebuah tarian berakhir. Berawal dari situ, kata ini kemudian berubah makna menjadi "tuntas, sampai akhir".


Orang Jepang sangat menghargai kerja yang dilakukan sampai tuntas. Tuntas sampai akhir, mencapai titik sempurna. Bila kita lihat para perajin (shokunin), mereka mengerjakan produk sampai detil, ke hal-hal yang kecil. Membersihkan sesuatu juga sampai sangat bersih. Menariknya, tidak cukup sampai di situ. Selesai melakukan suatu pekerjaan, sisa-sisa aktivitas tersebut juga dibersihkan, dan sekali lagi sampai tuntas.


Pekerjaan yang tidak tuntas adalah ganguan (meiwaku) bagi orang lain. Orang yang sering melakukan gangguan, meninggalkan "meiwaku" adalah gangguan bagi masyarakat, dan karenanya tidak disukai. Maka, kata "tokoton" sering muncul dalam nasihat atau perintah ketika seseorang melakukan sesuatu. Lakukanlah secara tuntas.


Mari kita lihat ke diri dan sekeliling kita. Tuntaskah pekerjaan kita? Atau sebaliknya, perlukah setiap orang menyelesaikan apa yang kita mulai?


Ada banyak tokoh yang saya saksikan di Indonesia ini, mereka lemah dalam hal penuntasan. Banyak hal yang mereka mulai, menuai pujian, melontarkan mereka ke popularitas. Namun sebenarnya banyak hal yang tak tuntas, meninggalkan pekerjaan yang harus dituntaskan orang lain. Itupun masih bagus. Karena ada orang yang dengan apa yang dia mulai justru menelantarkan dan menyengsarakan orang lain. Sedangkan dia sendiri sudah memanen popularitas, dikenal sebagai tokoh berjasa, memiliki gagasan brilliant. 


Orang yang bekerja tulus, tidak menjadikan pujian sebagai tujuan adalah orang yang mengerjakan sesuatu sampai tuntas. 


Tokoton!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjaga Kesehatan di Kantor Sangat Penting, Menuju Produktivitas Optimal

Tips Mempertahankan fokus setelah makan siang di kantor.

Bagaimana Cara Memulai Bisnis Online ?